Salah satu suku yang ada di Indonesia merupakan suku dayak. Suku ini merupakan salah satu suku di tanah air kita yang memiliki banyak sekali budaya dan tradisi yang menarik. Dilansir dari instagram @catatanbackpacker, inilah kisah Ashari Yudha yang belajar tarian tradisional suku dayak ketika mengunjungi kalimantan.

Biasanya setiap hari Sabtu dan Minggu, Desa Pampang mengadakan acara tarian adat yang menjadi salah satu highlight menarik di Kalimantan Timur. Saya dan Amer saat itu berhasil duduk paling depan, tapi sayang karena ada orang penting yang datang (entah memang penting atau terlihat penting) mau tidak mau kami disuruh pindah ke belakang. Dasar emang mau mengambil momen yang bagus, saya memilih untuk duduk di lantai paling depan.

Setelah menunggu beberapa saat, alat musik khas Dayak mulai dimainkan. Saya sendiri lupa namanya, tetapi berbentuk seperti gitar. Merdu sekali. Musik-musik ini nanti akan mengiringi para penari.

Banyak tari yang dipersembahkan hari ini, mungkin sekitar 8 jenis tarian. Penari dari berbagai kalangan dan umur, dari anak lelaki hingga remaja, anak perempuan, gadis, hingga ibu-ibu saling berkoordinasi untuk menunjukkan keahlian mereka.

Tapi dari banyak tari yang ditontonkan, ada satu tari yang sangat menarik bagi saya, yaitu Tari Pampaga. Disini, para penari harus melompat menghindari bambu yang bisa saja menjepit kakinya. Berbahaya? Tentu saja bisa berbahaya jika kurang latihan, akan terjepit dan terjatuh.

Tari Pampaga ini sendiri merupakan tari daerah yang memiliki lambang sebuah perangkap. Gunanya adalah agar menjepit leher burung – burung pipit yang suka memakan padi di ladang. Jadi inti sari dari tarian ini adalah menceritakan kisah masyarakat dayak yang suka menanam padi hingga cara mereka mengusir hama.

Terus kalau kamu ikut tarian ini, dijamin bisa modus juga. Kenapa? Karena pasti latihan dulu, saling memegang tangan. Kalau saya sih kemarin sengaja saya salahkan, abisnya partnernya cantik sih! Duh!

Udah ada yang pernah coba tarian yang unik-unik? Di share dong